Diklat Ekonomi Islam (DEI) 2014

IMG-20141017-WA0000

Road To Diklat Ekonomi Islam (DEI) 2014.

Diklat Ekonomi Islam : Semarak Menuju Dakwah Ekonomi Islam 

Ekonomi syariah saat ini sedang menunjukkan perkembangannya. Banyaknya  bank dan lembaga keuangan syariah yang bermunculan saat ini, menjadi suatu indikasi bahwa ekonomi islam telah banyak diminati. Berbagai kalangan tak luput mennyertakan diri nya dalam mendakwahkan ekonomi syariah. Baik itu praktisi, akademisi, wirausahawan, maupun mahasiswa mulai menyadari betapa pentingnya berekonomi islam.  Tak hanya sekedar tahu dan menyadari, bahkan telah banyak aksi dan kegiatan baik itu melalui sosial media,  seminar, kampanye, pelatihan, dan penerbitan literatur yang berkaitan dengan ekonomi syariah pun bermunculan. Semarak mendakwahkan ekonomi islam pun menjadi sesuatu yang lebih ”rapi” seiring bermunculannya organisasi yang saling berintegrasi satu sama lainnya berlandaskan semangat tersebut.

Di kalangan mahasiswa sendiri,  semarak dakwah ekonomi islam tertandai dengan berdirinya Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI). KSEI merupakan organisasi ekonomi islam yang rutin mendakwahkan ilmunya dengan cara melakukan kajian-kajian ekonomi islam di kalangan mahasiswa, di kampus masing- masing dengan nuansa ilmiah sebagai ciri khasnya. Memberi secercah pengetahuan yang dimiliki oleh masing- masing kadernya untuk dapat mendakwahkan kebaikan tersebut. Saling mengingatkan dan saling memperbaiki. Saling bertukar ilmu atas permasalahan ekonomi yang saat ini terjadi. Saling memberi solusi tentang bagaimana ekonomi islam dapat menjawab permasalahan yang ada. Lisensi merupakan salah satu bagian dari KSEI tersebut. KSEI yang mewakili UIN Jakarta untuk menyuarakan betapa  pentingnya berekonomi secara islam.

Mengapa Harus Mendakwahkan Ekonomi Islam?

Dakwah dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan oleh manusia dalam menyeru dan mengajak  pada kebaikan hingga kembali kepada jalan yang diridhoi Allah. Mendakwahkan suatu kebaikan tentu memerlukan ilmu yang mencukupi, supaya tidak terdapat keraguan dalam menyampaikan, menerima dan menerapkannya. Layaknya manusia yang mempunyai  kompetensi inti yang berbeda, maka begitupun dengan dakwah. Dakwah saat ini telah berkembang tak melulu mengenai masalah dasar keagamaan seperti ibadah, larangan Allah, surga dan neraka, tetapi telah merambah ke ranah yang universal[1], termasuk di dalamnya ekonomi syariah. Setiap orang tentunya mempunyai kompetensi ilmu  tersendiri yang dapat didakwahkan, yang tentunya tidak melenceng dari koridor agama islam dan Al Quran. Seiring dengan dinamisnya ilmu dan perkembangan zaman, maka telah banyak ilmu pengetahuan yang menyisipkan bahkan mengkhususkan pembahasannya secara syariah dengan tujuan yang tetap sama yaitu kembali kepada perintah Allah yang sesungguhnya. Kembali kepada jalan yang sebenar-benarnya. Dakwah ekonomi Syariah berarti menyampaikan kebaikan kepada sesama manusia mengenai pentingnya berekonomi secara syariah, berekonomi yang diridhai Allah seperti dengan meninggalkan riba, menginfakkan harta kepada yang membutuhkan, bagaimana mencapai berkah dan maslahah, dan tujuan lainnya yang akhirnya bermuara kepada kesadaran manusia untuk kembali ke  jalan Allah SWT

Apa itu Diklat Ekonomi Islam ??

Diklat Ekonomi Islam, merupakan salah satu upaya mempertahankan dakwah ekonomi islam yang dilakukan oleh KSEI Lisensi UIN Jakarta.DEI merupakan open recruitment, gerbang utama bagi mahasiswa yang ingin mengenal, memahami, dan mengamalkan ekonomi islam lebih jauh lagi dalam bagian keluarga KSEI LISensi. Event yang dilakukan rutinan setiap tahunnya ini telah melahirkan para pendakwah yang tangguh dan mumpuni dalam menyampaikan ekonomi islam di kalangannya.  Event yang Insyaa Allah dilaksanakan pada 24-26 Oktober di Masjid Bahrul Ulum Puspitek Serpong  ini akan diisi dengan materi yang menambah pengetahuan dan kecintaan kita terhadap sistem ekonomi syariah oleh pemateri  yang telah terjun dalam ekonomi syariah secara langsung dan telah mumpuni dalam menyampaikan ekonomi syariah, tentunya sangat  disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Tidak melulu materi yang disampaikan, dalam DEI ini juga akan dilaksanakan pelatihan penulisan essai, pelatihan leadership, mentoring pemetaan minat, serta training motivasi yang dapat meningkatkan kualitas diri dan kepribadian.

Kepada para pejuang ekonomi islam, khususnya mahasiswa yang ingin mengenal ekonomi islam lebih jauh, mengamalkan dan menyebarkannya, Diklat Ekonomi Islam merupakan event yang wajib diikuti. Tidak hanya menambah ilmu tentang berekonomi secara islam, tetapi juga menambah networking kepada para pendakwah ekononomi islam lainnya.  Karena sebaik baik manusia, adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Dengan ilmu kita dakwahkan ekonomi islam.  Dengan ekonomi syariah kita sebarkan kebaikan. Lets Spread The Islamic Economics.

Dunia-Akhirat-1

Revenue vs Expense – Analogi Kehidupan Manusia Dunia dan Akhirat

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir”.  (QS. Al- Ma’arij: 19-21)

 

Berkeluh kesah, merupakan sifat yang akan selalu melekat dalam diri kita sebagai manusia. Manusia, meskipun eksisitensinya diakui sebagai makhluk yang paling sempurna, namun tak dapat dipungkiri, berbagai masalah yang datang dalam kehidupan kita sebagai manusia menjadi salah satu pemicu dan pembenaran  agar kita dapat  secara wajar mengeluh,  menyesal, meratapi nasib yang ada. Hingga seolah tidak ada alasan untuk husnudzan.  Bertingkah seolah tidak ada solusi dan jalan keluar. Menganggap bahwa masalah yang ada merupakan beban berat yang memerlukan sesuatu yang berat pula untuk merumuskannya. Cara pandang yang sempit bermunculan,logika tak lagi berjalan. Emosi yang ada mengaburkan cara berpikir kita. Alhasil, anggapan itupun selalu ada. Masalah adalah beban, sehingga kita sebagai manusia harus memikulnya. Padahal, Allah Azza wa Jalla telah menyediakan solusinya.

Lantas, apakah korelasinya dengan judul diatas? Revenue vs Expense- Analogi Kehidupan Dunia dan Akhirat Manusia

Dalam perspektif akuntansi, pendapatan merupakan tambahan ekonomi yang diterima oleh suatu entitas atau perusahaan yang berupa tambahan kas yang dapat digunakan sebagai tambahan operasional suatu entitas.  Sementara beban (expense) dapat dikatakan sebagai penurunan keuntungan ekonomis suatu entitas selama periode berjalan dalam bentuk arus kas keluar ataupun pengurangan nilai asset yang dapat menyebabkan penurunan ekuitas suatu perusahaan. Secara sederhana, beban dapat diartikan sebagai pengurangan pendapatan akibat adanya kas yang dikeluarkan. Selisih dari pengurangan pendapatan dan beban inilah yang nantinya menghasilkan profit or loss suatu entitas, sehingga kinerja suatu perusahaan secara tidak langsung dapat terlihat dari selisih kedua akun tersebut.

Begitupun halnya dengan kehidupan manusia, sejatinya manusia selalu menghendaki adanya pendapatan yang maksimal di dalam dirinya. Pendapatan yang dimaksud dapat berupa kebahagiaan hidup ataupun kebahagiaan yang dapat membebaskannya dari segala permasalahan yang ada. Sementara beban, dapat dianalogikan sebagai permasalahan hidup yang harus dihadapi oleh manusia, entah itu permasalahan yang remeh temeh maupun yang dirasa cukup sulit untuk diselesaikan.

Namun, ada hal menarik yang perlu diketahui. Dalam perspektif akuntansi, beberapa akun beban yang sifatnya kompleks dapat diubah menjadi bagian dari asset suatu entitas atau sering disebut sebagai proses kapitalisasi, dimana beban-beban yang dikeluarkan untuk memperoleh suatu asset tertentu dapat dihitung menjadi bagian dari asset tersebut. Sebagaimana kehidupan manusia yang selalu mengangap masalah sebagai beban,  maka sesungguhnya masalah merupakan hal yang berharga bagi manusia. Jangan menganggap masalah sebagai beban, karena sesungguhnya beban itu dapat dikapitalisasi, beban itu dapat diubah menjadi harta, masalah itu dapat diubah menjadi harta yang berharga dalam kehidupan manusia untuk melakukan pembelajaran. Artinya, semakin berat masalah yang kita hadapi, semakin banyak pula kesempatan kita untuk dapat memperkuat dan memperkaya pengalaman bagi diri kita sendiri sebagai manusia.

Tak perlu khawatir dengan adanya beban yang ada. Dalam perspektif akuntansi, beban tak selamanya buruk. Beban yang dikeluarkan pada dasarnya adalah trade off yang harus dilakukan dalam memperoleh pendapatan dan juga harta lain. Suatu entitas pada dasarnya mengalami kerugian di awal pendiriannya sebelum seterusnya menjadi entitas yang settle dan dapat bertahan dalam persaingan antar entitas lain. Sama halnya dengan manusia yang memang pada awalnya harus melewati fase-fase sulit dalam kehidupan sebelum akhirnya memperoleh manisnya keuntungan yang didapat sebagai manusia yang hanya bisa diraih jika dapat mengeksekusi beban dan memaksimalkan pendapatannya, yang tidak mudah berputus asa, memaksimalkan rasa bahagia dan kelapangan dalam hatinya dan menganggap masalah sebagai beban yang  dapat dijadikan keuntungan sehinga tidak sepenuhnya merugikan. Oleh karenanya, manusia selayaknya tak perlu khawatir dengan berbagai macam permasalahan yang menimpa dirinya. Tak perlu meratap dan juga berkeluh kesah. Cukup jalani segala proses yang telah Allah tetapkan. Jalani dengan maksimal dan penuh keikhlasan.

Kembali kepada judul diatas, Revenue vs Expense- Analogi Kehidupan manusia dunia dan akhirat, lantas dimanakah sisi akhiratnya?

Kebahagiaan dan penderitaan manusia di dunia, pada akhir zaman nanti akan dimusnahkan dan diganti dengan balasan yang lebih baik di akhirat nanti sesuai dengan amal perbuatan yang telah dilakukan manusia sepanjang hidupnya. Begitupun dengan revenue dan expense ini, pada akhir periode akuntansi akan ditutup dalam jurnal penutup sehingga menyisakan akun asset, hutang , dan modal yang mencerminkan keadaan sebenarnya suatu entitas. Sama halnya dengan manusia yang pada akhir zaman nanti akan terlihat keadaaan yang sebenarnya, yang merupakan refleksi dari perbandingan amal baik dan amal buruknya. Maka, selisih antara revenue vs expense inilah menjadi penentu apakah manusia akan mengalami kerugian atau keuntungan pada akhirnya. Analogikan pendapatan sebagai amal baik dan beban sebagai amal buruk, maka dapat terlihat, pendapatan lebih besar daripada beban, maka didapatlah keuntungan. Amal baik lebih besar dari amal buruk didapatlah syurga sebagai balasan. Pun sebaliknya, apabila beban lebih besar daripada pendapatan, maka rugi yang didapat. Amal buruk lebih besar dari amal baik, maka naudzubillah, neraka yang akan didapat.

Wallahu alam bisawab. Kehidupan di dunia dan akhirat merupakan dua sisi yang satu persatu akan dihadapi. Tentunya kehidupan di dunia merupakan sarana bagi manusia untuk mencari bekal amalan yang sebaik baiknya untuk di akhirat kelak. Jangan pernah mengeluh atas permasalahan yang ada, dan jangan pernah lupa untuk memaksimalkan keuntungan yang ada, dengan cara yang dikehendakiNya pula,  baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Wallahu’alam.

Mutia Rahmah (Wakordiv PSDI LiSEnSi UIN Jakarta)